ESPOS.ID – Barisan peserta dengan balutan kain tradisional dari
berbagai penjuru nusantara berjalan menuju Kampus UKSW dalam Parade
Senja Seribu Wastra Nusantara di Salatiga, Senin (21/4/20225)
sore.(Istimewa)
Esposin, SALATIGA — Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
sebagai Kampus Indonesia Mini kembali mengukir sejarah baru melalui
perhelatan budaya bertajuk Parade dan Launching Wastra Nusantara “Senja
Seribu Wastra Nusantara di Salatiga”, Senin (21/04/2025) sore.
Parade yang melibatkan 1.527 peserta dari kalangan mahasiswa dan
masyarakat umum ini merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalis
ke-25 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom).
Parade Senja Seribu Wastra Nusantara di Salatiga diramu dari tiga
momen penting yang jatuh pada April, yaitu Dies Natalis Fiskom, Hari
Kartini, dan Hari Bumi. Tiga momen ini menyatu dalam satu panggung
budaya, menegaskan komitmen UKSW dalam membangun peradaban yang
menghargai perempuan, bumi, dan warisan budaya.
Parade ini diawali dengan barisan peserta dalam balutan kain tradisional dari berbagai penjuru nusantara
dengan berbagai warna, motif, dan makna, terlihat mencerminkan harmoni
budaya Indonesia. Mereka juga membawa hasil bumi serta aneka makanan
otentik khas Salatiga menambah kekayaan nuansa lokal dalam perhelatan
ini.
Ribuan peserta yang terdiri dari mahasiswa, Ibu-ibu Pemberdayaan
Kesejahteraan Keluarga (PKK), kaum difabel, perwakilan dinas di
Salatiga, dan masyarakat umum memulai langkah mereka dari halaman Rumah
Dinas Wali Kota Salatiga dan perlahan menyusuri Jalan Diponegoro menuju
Kampus UKSW.
Adapun komunitas yang terlibat yaitu Komunitas Sanggul, Komunitas
Diajeng (Kebaya), Dharma Wanita Persatuan (DWP), Komunitas Kreatif
Salatiga, Komunitas Parahita, dan Perempuan Berkebaya Indonesia. Hal ini
menjadi simbol kebanggaan akan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Meski diguyur hujan, para peserta tetap tampil memukau dalam balutan
wastra indah yang berasal dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas
sampai Pulau Rote. Kain tenun dari Nusa Tenggara, batik, songket dari
Palembang, tapis dari Lampung, sasirangan dari Kalimantan Selatan, lipa
saqbe dari Sulawesi Barat, hingga ulos dari Tanah Batak menyatu dalam
satu irama budaya yang memesona. Lantunan alat musik tradisional Jawa
seperti gamelan, gendang, dan gong menyatu dengan langkah para peserta
pada parade senja kali ini.
Mencerminkan Miniatur Indonesia

Pembukaan Parade dan Launching Wastra Nusantara “Senja Seribu Wastra
Nusantara di Salatiga” Senin (21/4/2025) sore di halaman Rumah Dinas
Wali Kota Salatiga.(Istimewa)
Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami berdiri anggun mengenakan Kebaya
pakaian adat Jawa dengan bangga mempersembahkan Parade Senja Seribu
Wastra Nusantara ini sebagai bentuk penghargaan bagi Pemerintah Kota
Salatiga (Pemkot Salatiga) yang mencerminkan Miniatur Indonesia.
“Wastra adalah kain nusantara yang sudah menjadi kekayaan bangsa
kita. Oleh karena itu, UKSW hadir sebagai kampus Indonesia Mini di mana
mahasiswanya berasal dari seluruh penjuru nusantara menggelar parade ini
sebagai wujud cinta Tanah Air,” ujarnya dalam rilis.
Profesor Intiyas Utami juga menekankan bahwa melalui momen ini UKSW
hadir tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjaga warisan
budaya Indonesia.
“UKSW adalah cermin miniaturnya Indonesia. Hari ini, kita ingin
menunjukkan bahwa kehadiran UKSW di Kota Salatiga adalah bagian dari
sejarah karena kita berada di kota tertua kedua di Indonesia,” katanya.
Tak lupa ucapan selamat ulang tahun juga dihaturkan oleh Rektor
Perempuan Pertama UKSW ini kepada civitas academica FISKOM. Ia berharap
di usia yang ke-25 tahun ini FISKOM semakin mendunia dan menjadi bagian
dalam perjalanan UKSW menuju World Class University.
Momen bersejarah ini juga mendapatkan apresiasi positif dari Wali
Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG. Disampaikannya bahwa melalui
parade ini, UKSW selaku penyelenggara semakin meneguhkan peran Kota
Salatiga dan kampus sebagai Indonesia Mini serta berhasil memberikan
panggung bagi kemegahan Wastra Nusantara.
“Acara ini juga sekaligus menjadi sarana untuk memperkaya khasanah
budaya masyarakat melalui pelestarian salah satu warisan luhur bangsa
Indonesia,” imbuhnya.
Penghargaan Leprid
Gelaran Parade Senja Wastra Nusantara di Salatiga yang menyuguhkan
kekayaan kain tradisional dari berbagai daerah ini berhasil mencatatkan
prestasi tingkat nasional dengan meraih penghargaan dari Lembaga
Prestasi Indonesia Dunia (Leprid). Melalui parade ini UKSW berhasil
menciptakan rekor baru di LEPRID dengan nama rekor, Parade Senja Wastra
Nusantara Peserta Terbanyak yaitu 1.527 peserta dan tercatat dengan
nomor urut 901.
UKSW berhasil meraih tiga piagam penghargaan, satu piala, dan satu
medali emas. Penghargaan diberikan langsung oleh Pendiri dan Ketua Umum
LEPRID Paulus Pangka, S.H., kepada Rektor UKSW sebagai Pemrakarsa Parade
Senja Wastra Nusantara, UKSW sebagai Penyelenggara Rekor Peserta
Terbanyak, serta Dekan Fiskom Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., sebagai
Inisiator Rekor Parade Senja Wastra Nusantara.
Tak hanya UKSW, Pemkot Salatiga yang diwakili oleh Wali Kota
Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., juga mendapatkan penghargaan
karena telah bersama-sama UKSW menciptakan rekor baru di LEPRID.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Launching Komunitas Wastra
Nusantara di Salatiga oleh Retno Margiastuti Robby Hernawan, S.E.,
Talkshow Wastra Nusantara, dan penampilan Teater Semut Geni bersama
Sujiwo Tejo.
Dies Perak Fiskom UKSW ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan
lainnya seperti Lomba Foto dan Creative Video Competition untuk pelajar
SMA/SMK, lomba call for paper, Bazar UMKM, dan juga seminar.
Parade yang melukis sejarah ini menjadi bukti nyata bahwa UKSW terus
mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan
berkualitas, ke-16 perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh,
serta ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW
telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di
jenjang D3 hingga S3, dengan 28 Prodi Unggul dan A.
Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia
Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai
daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang
berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. (NA)
(Sumber: Espos.id
)